Senin, 24 Oktober 2011

jiwanyaa raganyaa

kini ku berdiri menatap bayangan dicermin kamarku, menatap diriku, keseluruhanku, apa yang salah dari ku ?
menangis diriku sejadinya, tanpa ingin seorang pun menanyakan kenapa
jangan ganggu !
ku ingin sendiri !
tanganku menyentuh pipi dengan lembut, membayangkan apa yang dulu pernah terjadi,sentuhan telapak tanganmu membuatku merasakan indah akan dunia. mungkin memang hal biasa, namun karena mu aku senang tak peduli orang berkata apa. derai tangis terus membasahi pipiku . melampiaskan semua yang terjadi
........................
"mata lu kenapa sembab vi?" tanya Dira teman dekatku
"engga papa ko" sergahku halus

"ayolah vi jangan murung terus dong" paksa Zahra ,tak terasa derai air mataku jatuh membasahi pipiku, aku menangis lagi, dan menangis sejadinya
"vi, gue juga sedih atas perginya alvin, tapi ya mau gimana lagi vi itu udah kehendak tuhan" nasehat zahra bijak

alvin, namanya selalu terukir di setiap hariku, disetiap nafasku, disetiap denyut nadiku, di setiap detak jantungku

sadar akan, isak tangisku takan mampu membuatnya kembali, takan mampu membuat raganya  bersamaku, berada disampingku, mengisi hariku, disekitarku ikut iba akan hal ini, yang membuatku semakin tertekan.

"vi, pulang sekolah anterin gue ya ke toko kaset di deket jalan madu itu" pinta zahra
dan aku hanya mengangguk pasrah

pulang sekolah, dengan langkah gontai ku telusuri di sekitar jalan madu, lelah memang ku sadari tak menemukan toko kaset yang dituju, ada hal janggal yang kurasakan, mengapa jalan yang ku lalui tampak persis dengan jalan sebelumnya, atau mungkin memang sama
kulirik zahra yang sedang memandang wajahku,kutatap dengan tatapan bingung
"jauh" ucapku irit, sungguh irit
"yaelah vi, luga sadar juga gue ajak muter nih tempat 3 kali?" tanya zahra yang sukses membuatku memajukan bibir mungilku
"pantesan" cibirku, masih bungkan untukku untuk berbicara banyak, karena memang menurutku tak penting untuk aku mengeluarkan kata yang memang tidak penting untuk dikatakan, begitu pula dengan tawa. mengapa harus tertawa jika memang itu tak untuk ditertawakan.

"haha yaudah deh vi, nih udah sampe depan tokonya, masuk yu" ajak zahra sambil menarik lenganku agar aku mengikutinya
"beli apa sih?" tanyaku malas
" gatau, gue lagi pengen liat dulu aja" ujarnya langsung melesat menuju bagian musik yang didinginkannya, tanpa pikir panjang ku langkahkan kaki menuju deretan musik jazz yang memang tergolong aliran musik kesukaanku, tanganku menyentuh sebuah kaset yang kusuka bersamaan dengan itu sang penjaga toko mulai memainkan, menyetel tepatnya lagu yang sesuai dengan lagu yang kusuka, kulihatsang penjaga toko, dia tersenyum ramah padaku, dan ternyata dia sengaja memutarkannya untuku, aku balas tersenyum dan kembali terfokus pada kepingan cd di genggaman tanganku

teringat kembali...

gesekan biola memaksaku melangkahkan kaki menuju ruang musik dimana disitulah dia berada, lagu yang mengalun lembut, itulah kali pertamanya kita berjumpa, aku mengenalnya lewat lagu ini, wajahnya yangtampan, namun sayang terlihat pucat, sedikit perbincangan dengannya membuatku tahu siapa dia, alvin.

tak terasa tetesan air itu lagi menetes dari bola mataku, sejenak ku terisak, namun kulihat sapu tangan putihtelah tersodor dihadapku, rupanya penjaga toko itu yang memberikan,tatapannya sungguh teduh seperti aku melihat alvin . ku ambil sapu tanganitu dan ku hapus air mata yang telah membasahi pipiku
"kamu jelek kalo nangis" ujarnya saat itu
mengingatkanku.....

"mamah sama papah jahat sama aku"cercaku pagi itu
 "maaf sayang, mamah ga mungkin lagi bersatu sama papah"
itulah perceraian orang tuaku, aku lebih memilih pergi dari rumah menangis sendiri di taman dekat rumahku
"kamu jelek kalo nangis" ujar seseorang sambil menyerka air mata di pipiku menggunakan ibu jarinya, dia alvin yang setiap harinya menemani hariku

"makasih" ujarku sambil tersenyum padanya, ku letakan kaset itu dan berlalu pergi meninggalkan toko kaset itu, meninggalkan zahra yang juga masih berada disana

entah mengapa sepanjang perjalanan aku memikirkan lelaki yang sedari tadi berada di toko kaset,penjaga toko tepatnya

"via kenapa lu ninggalin gue si?" cerca zahra di sebrang sana
"maaf ra" ujarku, sedikit bersalah memang ku meninggalkannya
"yaudahlah eh penjaga toko kaset minta nmor lu, gue kasih aja,maaf yah"ujarzahraada nada penyesalan terdengar di telingaku
"yaudah gapapa, eh ra udah dlu ya, cape" ujarku lalu memutuskansambungan telefon

tak lama handphoneku berdering kembali, kufikir zahra
"apa lagi ra?" tanyaku jengkel
"aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku" dan sambungan telefon terputus, kulihat nomor yangtertera, tak kukenal fikirku, kucoba abaikan namun ada pesan masuk dari nmor yang sama

08xxxx
senyum yag dirindukan :')

aku mengerutkan kening tanda tak paham akan pesan ini

08xxxx
tunggu  aku datang kerumahmu

ujarnya, dan benar saja, tak lama pintu rumahku berdering, kusegerakanmenuju pintu dan kulihat siapa yang datang, kubuka pintu dan kudapati kaset yang tadi siang kulihat di toko kaset, dan tertera nama pengirim, Rio, aku tersenyum membacanya, rio? apa dia bisa menggantikan alvin? kaset ini? lagu itu? apa jiwa alvin ada dalam raga rio? pertanyaan mengahantui setiap malamku, tak jarang pula pesan yang dikirim rio untukku, terkadang ku balas dngan kata-kata yang menurutku bijak

08xxxx
senyum indah ingin kulihat dirimu

-
inginku tunjukan senyum itu
siapa dirimu gerangan?

aku pura-pura tak tahu siapa dia, ku akui aku jatuh cinta padanya aku suka padanya, ia benar-benar alvin yang kurindukan, ku ingat, sapu tangannya, ku ambil dari laci kamarku, dan kuingat pertemuan pertama kita, tekad ku , aku akan menemuinya di toko besok
.......................

tiba di toko tak kujumpai orang yang bernama rio, dan kudapatiseseorangtelah berdiri dibalik meja kasir yang biasa rio tempati
"maaf mba, mau cari kaset apa ya?" tegurnya, dan aku hanya menggeleng masam
"ada rio?" tanyaku hati-hati
"oh kamu temennya rio ya? rio kan sedang dirawat sejak5 hari lalu, penyakitnya makin menjadi" jelasnya
"sakit apa ya?" tanayaku penasaran
"kangker otak udah stadium akhir"
itu..........

"siapa keluarga alvin?" tanya dokter setelah menangani alvin yang berada dirumah sakit saat itu
"saya dok, saya pacarnya" jelasku, sudah 5 hari lebih aku menjalin hubungan dengan alvin
"keadaannya memburuk, kangker otak yang dideritanya mencapai stadium akhir,beliau tetap tidak mau untuk di kemo" jelas dokter panjang lebar, membuatku serasasesak, tak kuat membendung air mata, dia alvin

dengan gugup kubuka pintu kamar yang suster bilang, disinilah tempatrio dirawat
"kamu" ujarnya kaget
"kamu rio?" tanyaku hati-hati
"kamu udah tau ya? hehe maaf ya bukan maksud aku neror kamu, tapi aku suka sama kamu" ujarnya langsung yang sempat membuatkuternganga dan sempat pula membuat pipiku menimbulkan guratan merah
"ah kamu, cepet sembuh ya, aku gamau kamu sakit, aku kan juga suka sama kamu"
awal ku menjalin hubungan dengannya
semakin  hari semakin dekat, dia bilang merindukan senyumku, dan dia yang membuatku selalu ingin tersenyum padanya
"nah kalo kamu senyum kan cantik" ujarnya penuhsenyum
"aku kan udah senyum, kapan kamu sembuhnya?" ujarku, memang sebulan lebih kini dia berada disini, dirumah sakit
"aku tuh cape vi" jelasnya
"hush harus kuat dong, aku mau kamu sembuh"
"tapi akucape vi, sakit" rintihnya, dan akupun mulai menangis
"kenapa kamu tangisin aku? belum tentu aku nati sekarang tauk, umurkan udah ditentui sama yg diatas"ujarnya polos
saat itu......

"aku ga kuat vi, aku cape, ijinin aku pergi yah sayang"ujarnya lirih
"jangan ngomong gitu vin, aku sayang kamu" ujarku sambil menangis dipelukannya
"jangan nangis dong, belom tentu juga aku mati sekarang, siapa tau besok hehe" candanya yang menurutku tak lucu, ya alvin

"vi, ikhlasin aku ya" ujarnya tiba-tiba
"yo" lirih via
dansenyum terakhir rio saat itu pula hilang

tapi itu.....

"aku pamit vi"
"vin jangan ngelantur ah"  tegasku
"hhhhhhhh" nafas terakhir yang dihembuskannya, alvin


aku terisak, benar benar buruknasibku saat ini? aku menemukan rio, yang berjiwa alvin, namun mengapa aku harus kehilangannya seperti ku kehlangan alvin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar